Papa dan Mama...

Jika nanti Allah mengizinkan aku untuk mendapatkan peran sebagai orang tua juga, doakanlah aku agar mampu menjadi setangguh mama dan papa...

3 weeks ago - 6 min read

Dulu, aku hampir mengira bahwa menjadi Ibu Rumah Tangga adalah pekerjaan yang sangat-sangatlah mudah. Bagaimana tidak, setiap hari ku lihat mamaku, bekerja seperti tak ada letih di garis-garis wajahnya. Setiap kali aku lapar, tak pernah ku temukan dapur kosong dengan makanan yang dimasak sendiri oleh mama. Setiap kali aku ingin belajar, telah siap buku-buku pelajaran yang telah ditata di lemari buku, tepat di sebelah meja belajarku. Ketika aku bangun tidur, mama telah beraktivitas di dapur dan ketika aku akan tidur di malam hari, mama masih saja sibuk berbenah memperhatikan letak barang-barang di setiap sudut rumah. Tidak hanya itu, beliau juga selalu mengerjakan tugasnya sebagai guru di sekolah dengan sangat baik. Tidak jarang ku lihat beliau sibuk dengan berkas-berkasnya ketika malam hari, menyelesaikan tugas-tugas sebagai abdi negara, yang membangun generasi.

Aku tak pernah ingat, kapan itu hari ibu. Tapi aku ingin selalu mensyukuri kehadirannya sebagai salah satu rezeki terbesar untukku sebagai seorang manusia yang hidup di dunia. Aku percaya setiap ibu di dunia ini pasti akan melakukan apapun yang menurut mereka terbaik untuk anak-anaknya dari sudut pandang pribadi mereka. Setiap Ibu menyayangi anaknya, dengan keunikan caranya. Begitupun dengan mamaku. Aku dan mama mungkin bukanlah pasangan ibu-anak romantis seperti idealnya pasangan ibu-anak lainnya, tapi hadirnya mama sebagai kunci solusi yang selalu Allah andalkan dari pintu-pintu masalah yang aku adukan disetiap doaku kepada-Nya, sudah cukup menjadi peneduh batinku setiap kali memeluknya.

Tidak kalah dengan mama, papa juga adalah salah satu laki-laki di dunia yang sering membuatku kagum. Aku ingat sekali, jika bacaan shalat perrtamaku, diajarkan langsung oleh papa. Bukan melalui buku tuntunan shalat, tapi papa sengaja menuliskan sendiri doa-doa yang dibacakan dalam setiap gerakan shalat, langsung dengan tulisan tangan arab beliau, yang rapi dan indah. Jika melihat tulisan tangannya, pasti akan ada yang menyangka kalau papa adalah seorang lulusan pesantren, atau setidaknya lulusan dari sekolah agama yang sering mendapat pelajaran bahasa arab, namun kenyataannya, aku dan papa sama-sama lulus dari sekolah umum, bukan dari madrasah apalagi pesantren.

Sepanjang yang aku ketahui, papaku adalah laki-laki pekerja keras yang sangat disiplin. Pekerjaan beliau sebagai seorang tukang, tidak pernah mengurangi pesona beliau sebagai seorang pemimpin keluarga. Bahkan, papa adalah pak guru andalan yang selalu jadi sumber jawaban setiap kali ada PR dari sekolah yang tidak mampu ku selesaikan (*dulu, zaman internet masih susah). Sebagian orang yang baru kenal dengan papa, mungkin tidak akan pernah menyangka, kalau papa adalah seorang pembaca buku yang sangat produktif. Buku-buku yang bahkan sampai hari ini aku harus memaksakan diri agar selesai membacanya. Buku-buku pegetahuan, yang jauh dari fiksi, dengan jumlah halaman lebih dari 200.

Papa dan mama...

Genap sudah 24 tahun aku menjadi anak kalian. Anak perempuan tertua di rumah yang tidak kalah manja dengan si anak bunggu. Sampai sebesar ini, aku masih belum bisa memberikan kalian apapun yang berharga selain dari doa. Semoga amalan baik mama sebagai istri dan ibu, serta amalan papa sebagai kepala rumah tangga, diterima oleh Allah. Semoga Allah menyayangi mama dan papa seperti kasih sayang mama dan papa kepada kami berlima, anak-anak yang tumbuh besar dengan fasilitas yang cukup, yang telah mama dan papa upayakan untuk kami dengan kerja keras.

Papa dan mama...

24 tahun terakhir ini, banyak sekali pelajaran yang sudah aku pelajari dari banyak orang yang aku temui. Dari semua pelajaran itu, aku sangat percaya kepada pernyataan Ali bin Abi Thalib “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percaya itu”. Sebagaimana Allah tidak menjelaskan kepada mama dan papa jika akan diberikan anak sepertiku, dengan kepribadian yang aku punya, tapi tetap pula mama dan papa terima dan dengan ikhlas membesarkan penuh kasih sayang, serta memberikan pendidikan juga bekal keterampilan menghadapi kehidupan.

Papa dan mama...

Jika nanti Allah mengizinkan aku untuk mendapatkan peran sebagai orang tua juga, doakanlah aku agar mampu menjadi setangguh mama dan papa...

Papa dan mama...

Terima kasih. Terima kasih atas segala-galanya. Semoga Allah menjaga kita semua dalam lingkar kasih sayang-Nya. Semoga Allah melimpahkan keberkahan disepanjang umur kita sekeluarga. Semoga, keluarga kita tidak hanya hasanah di dunia, tapi juga hasanah hingga di akhirat nanti. Aamiin.

Tulis cerita menarikmu di Penna!

Tags :

2 77 reads

Nur Aisyah@aisyah

Merangkai kata dengan penghayatan penuh, dari kisah hidup manusia

Follow
Comments • 0