Tentang Kecewa

Yang Maha Kuasa memang mencintaimu dengan cara-Nya sendiri

10 months ago - 3 min read

Suatu ketika ada kecewa yang datang, mampir sebentar tapi menyimpan resah yang sukar dihilangkan. 

Waktu itu, aku berpura-pura untuk jadi biasa saja, tapi air mata segera menyeru untuk tidak tunduk pada mauku. Ia keluar sesukannya, menderas semaunya, membuat tanganku repot menyeka hadirnya. 

Hari itu aku dipaksa menerima, menelan mentah-mentah skenario dari takdir yang sudah lama tertulis meski selalu susah untuk kubaca. 

Gagal. Aku gagal lagi. 

Entah sudah ada berapa banyak koleksi gagal yang aku terima sampai hari itu, lemas jari-jariku menghitungnya. Terlebih tentang kegagalanku merajut cerita bersamanya. Gagalku pada hal ini, membekas sayatan kecewa yang perih dan lara. 

***

Hari ini aku mengenang tentang kecewa itu. Tentang air mata yang sudah terlanjur membasahi pipi-pipiku. 

Tentu, kecewa yang sudah terlanjur tumbuh, tak mudah untuk dimusnahkan. Tapi, hari ini aku menjadi bisa menangkap pelajarannya. 

Kenapa ada kecewa? 

Kecewa tentu tidak akan hadir begitu saja. Ia selalu tumbuh dengan alasan yang sama, yaitu karena tidak bertemunya harap dengan nyata. 

Barangkali, ketika itu, aku masih terlalu muda untuk mengendalikan sebuah harap. Hingga dengan mudah menitipnya kepada seseorang. Iya, karena besarnya kecewa akan berbanding lurus dengan besarnya harapan yang engkau titipkan. Maka mudah saja, jangan berharap. Lebih tepatnya, jangan terlalu berharap kepada manusia.

Kamu boleh saja mempercayai seseorang. Namun seiring dengan itu, mengaharaplah kepada Yang Maha Kuasa. Berharaplah, bahwa apa yang kamu percayai memanglah yang terbaik dan pantas untuk dipercaya. Yakinlah, mengaharap kepada Yang Maha Kuasa adalah cara terbaik menyimpan harap yang pernah ada. Karena, jika ternyata yang engkau harapkan tak juga memberi pasti, maka yang akan engkau terima mungkin yang lebih baik dari apa yang kamu percayai. 

Yang Maha Kuasa memang mencintaimu dengan cara-Nya sendiri. Kamu diberikan kesempatan untuk mengharap, lalu kamu diajarkan kesabaran dengan kecewa kemudian diberikan hadiah kepadamu yang akan membahagiakanmu tak terkira. Kuncinya, kerjakan saja tanggungjawabmu dengan sebaik-baiknya. Asalkan kamu telah melakukan yang terbaik, seburuk-buruknya pun hasil yang kamu dapatkan, pasti hanyalah bumbu pemanis keberhasilanmu kemudian. 

Salam penna, Nur Aisyah. 

Tulis cerita menarikmu di Penna!

Tags :

2 135 reads

Nur Aisyah@aisyah

Merangkai kata dengan penghayatan penuh, dari kisah hidup manusia

Follow
Comments • 1

Hamdan Syamsudin @hamdansyam 10 months ago

cinta Yang Maha Kuasa besar sekali yaa..
Reply