Reunian Dalam Petualangan Menaklukan Cikuray

4 months ago - 6 min read
your-image

Sabtu -minggu kedua dalam Februari ini, keputusan telah diambil. Iya, untuk  reuni kembali dan juga mendapatkan kawan baru di Cikuray. Iya Cikuray adalah perjalanan yang terpilih. Cikuray, gunung tertinggi di kota Garut. Kita tidak sedang unjuk pembuktian diri sebagai seorang yang kuat. Karena nyatanya setiap jengkal yang dijejaki  memojokanku sebagai seorang yang lemah. Hanya satu yang harus ku ingat, gunung yang menjulang tinggi itu berada dibawah tapak kaki, itu artinya tak ada alasan  untuk pesimis. Oh iya, kenapa selalu memilih reunian dengan petualangan? jika hang out  makan-makan, selesai acara kesannya pun sebatas hahahihih dalam obrolan yang ngalor-ngidul-wetan, sedangkan dalam pendakian hahahihihehehhoho, suka senang dan menderita bareng-bareng..

your-image



your-image




Kami memilih pendakian dengan jalur Pemancar yang katanya standar dibanding jalur lainnya . Tapi eh tapi,  standar yang menjadi relative itu bukan hanya urusan kecantikan tapi juga dalam pendakian. Bagiku tracknya luar biasaaaaaaaaa. Cikuray dengan jumlah 7 pos sampai saat ini, Cikuray adalah pendakian yang ter-ripuh  dalam catatan hati seorang pendaki newbie yang kumiliki sepanjang episodenya bergulir. Entah faktor cuaca, faktor x, atau faktor y pokoknya serumit memecahkan persamaan linear matematika. 

your-image



Kembali tentang bagaimana pendakian Cikuray ini ditempuh, karena  perjalanannya luar biasa hampir mendekati sore kami baru sampai di post tiga. Oh iya, kami memulai pendakian di base camp pemancar sekitar jam 10-an, nyiput sekali kan perjalanan kami?bagaimana bisa tidak, sekali dua kali kami naik diiringi break. Bahkan sampai di post satu pun kami sudah mulai mengeluarkan nesting guna menambah energi. Akhirnya kami memutuskan camp di pos 3 yang lokasinya masih jauh dari puncak, dan belakangan kami ketahui bahwa ternyata pos tiga adalah lokasi yang ah sudahlah saya tak ingin mengganti kenangan perjalanan ini dengan roman mistis.   Pertimbangan kami memilih pos tiga sebagai lokasi camp karena menghindari tracking malam karena tantangannya berkali-kali lipat merepotkan dengan angin badai dan kabut tebal yang menerjang sementara team kami minim penerangan. Meskipun akhirnya teralami pula, trecking tengah malam dengan penerangan minim dan licin saat turun dari puncak. Perjalanan turun yang biasanya tidak melelahkan seperti saat merangkak naik ke atas malah menjadi bagian dari petualangan yang kadar kerumitannya menyerupai bahkan melebihi summit menuju puncak, tapi menjadi bagian dari yang tak terlupakan.

Menjelang malam angin badai bertiup, dan semakin ngeri jika sampai babi hutan berkeliaran, maklum Cikuray adalah Gunung dengan tipe hutan yang masih asri. Guide kami menuturkan, ini adalah rumahnya. Bukan mereka yang mengganggu. Para pendakilah tamunya yang tak boleh mengganggu rumah mereka. Sekalipun  sembari menenangkan bahwa daerah rawan babi adalah pos 5 & 7 tetap saja kecemasan tidak bisa dihilangkan.  Jam dua dini hari, kami bergegas untuk summit menuju puncak, apa daya meskipun malamnya  telah menyiapkan menu sahur, summit baru kita lakukan jam 4 dini hari. Dan butuh waktu hampir lima jam untuk sampai di puncak Cikuray. Telinga sudah amat kebal jika ada bertutur semangat kak, puncak sebentar lagi. Serasa kalimat hoak bhuahahah. Yah meskipun sampai di puncak, samudera awannya tertutup oleh kabut. Cikuray memang terkenal dengan negeri diatas awan, tapi tak menemukan keelokan awan disana tak mengurangi kesan yang amat berharga dari pendakian Cikuray ini.

Lagi, alam selalu memiliki kesempatan, Mengeratkan. Mengganti asing menjadi kawan.Biarkan, agar esok hari ada kisah nostalgia yang bisa kita ceritakan. Tentang perjalanan jatuh bangun, merangkak ke atas dan turun perlahan.Angin badai, terjal dan curam jalanan, fisik yang habis terkuras menjadi pemanis ceritanya, jejak perjalanan tanpa rekaan, sebenarnya cerita tentang filosofi kehidupan..

Awan atau sekedar mengabadikan diri diatas puncak, bukanlah tujuan. Itu hanya bonus. Saat turun perlahan karena cuaca dan langit malam yang menyapa,  jika Nice Pic yang menjadi incaran, Kami mendapatkan City Light pengganti awan yang tertutup kabut, sisi lain yang di tawarkan oleh Cikuray selain awannya, jari-jemariku tak sempat mengambil nice epik dari panorama yang indah. Biarlah mata ini mengambil langsung lukisan alam mahakarya sang pencipta yang tak tertandingi. Karena sekali lagi, pendakian bukan sekedar bagaimana mengabadikan diri diatas puncak. Tetapi bagaimana perjalanan berkawan dalam pendakian dan pulang dengan selamat adalah harapan utama dalam pendakian.


Tulis cerita menarikmu di Penna!

Tags : traveling jelajahindonesia pennasahabatindonesia jelajah indonesia penna sahabat indonesia

5 316 reads

resti tri herdiyanti@dererez

Follow
Comments • 2

Penna @penna 4 months ago

Woowww Sobat Resti Wanita super ternyata.. Suka Mendaki :D Hebat euy.. Terimakasih sudah berbagi disini.. ^_^ Bawaanya Baper baca ini, pengen ngerasain daki juga :D
Reply

resti tri herdiyanti @dererez 4 months ago

iya min, masih newbies juga... jangan ndaki min nnti ketagihan
Reply